Jumat 25 Jan 2019 11:46 WIB

Mentan Luncurkan Program Santri Tani Milenial

Pemerintah menyediakan bantuan 1 juta ayam untuk seluruh pesantren di Indonesia.

Red: EH Ismail
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat Launching Santri Tani Milenial di Lapangan Pasar Munding, Desa Kamulyaan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (25/1).
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat Launching Santri Tani Milenial di Lapangan Pasar Munding, Desa Kamulyaan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (25/1).

TASIKMALAYA -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan terobosan guna meningkatkan produksi berbagai komoditas pertanian melalui peningkatan minat tani generasi muda. Untuk kalangan santri, Kementan pun meluncurkan program Santri Tani Milenial di Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (25/1).

Dalam acara itu, sebanyak 15 ribu santri dari seluruh Indonesia hadir dan melakukan dialog sekaligus mendapatkan pelatihan agribisnis. Harapannya, para santri bisa menerapkan praktik usaha modern pertanian dari hulu ke hilir.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sambutannya menyatakan, peluncuran program Santri Tani Milenial merupakan upaya serius Kementan dalam regenerasi di sektor pertanian. Regenerasi pertanian dinilai penting lantaran kebutuhan pangan di masa depan akan semakin besar seiring laju pertumbuhan penduduk. Apalagi, jumlah pekerja di sektor pertanian yang mayoritas diisi oleh para petani senior harus terus didongkrak dengan para petani muda.

“Alhamdulillah, ada energi baru untuk pertanian kita. Santri milenial yang jumlahnya 4 juta di seluruh Indonesia. Kita sudah buat peraturan agar mereka bisa akses langsung ke kementerian tanpa prosedur yang berbelit. Salah satu bantuan adalah kita alokasikan 1 juta ayam untuk seluruh pesantren,” kata Mentan di Lapangan Pasar Munding, Desa Kamulyaan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Amran melanjutkan, upaya memperkenalkan dan menggerakkan santri milenial adalah pilihan strategis untuk regenerasi petani sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, pelibatan para santri merupakan bagian dari program yang lebih besar, yakni gerakan 1 juta petani milenial yang sudah ditetapkan sebagai program prioritas membangun manusia Indonesia di 2019.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan pondok pesantren seluruh Indonesia tersebut, Kementan memberikan bantuan secara langsung benih unggul untuk padi, jagung, dan tanaman hortikultura. Begitu juga dengan ternak, ada 102 ekor sapi, 500 ekor kambing/domba, dan 10 ribu ekor ayam, serta bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa 10 hand tracktor. Jumlah itu masih terus berkembang sambil melakukan pendataan potensi pesantren-pesantren yang ada.

“Kegiatan ini tidak sekadar seremonial karena bantuan dan pelatihan yang dilakukan kongkret dan akan didampingi oleh unit-unit pelaksana teknis. Harapannya, pesantren bisa mendorong produktivitas pertanian dan menghasilkan banyak entrepreneur muda bidang pertanian ketika kembali ke masyarakat,” ujar Amran.

Berdasarkan data Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Gerakan Petani Milenial tersebut melibatkan satu juta petani milenial yang tergabung dalam 40 ribu kelompok petani. Mereka tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh sampai ke Papua. Kelompok tani tersebut dibagi ke dalam zona kawasan jenis komoditas pertanian, antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

“Jumlah petani milenial setiap provinsi berbeda-beda berdasarkan jumlah petani yang tergolong ke dalam usia milenial, yaitu 19 sampai 39 tahun. Atau, petani yang tidak berada dalam range umur tersebut, tetapi berjiwa milenial, tanggap teknologi digital, tanggap alsintan, dan mempunyai lahan,” kata Kepala BPPSDMP Kementan Momon Rusmono.

Wirausaha santri

Sebelum membuka acara Santri Tani Milenial, Mentan menyempatkan diri untuk menengok pelatihan pertanian untuk para santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda. Di pesantren yang lokasinya sekitar 2 kilometer dari lokasi acara tersebut, Amran berinteraksi langsung dengan sejumlah santri yang antusias mengikuti pelatihan pengoperasian alsintan di sawah dan pelatihan peternakan sapi, domba, dan ayam.

Para santri tidak hanya mendapatkan pelatihan teoritis, tetapi langsung menerapkan ilmunya. Sejak berdiri di pertengahan 1960-an, para santri di pesantren ini memang telah terbiasa memenuhi kebutuhan 4.000 santrinya dengan bertani. “Dari lebih dari 30 hektare lebih lahan milik pesantren, setengahnya adalah lahan pertanian dan sudah dikembangkan untuk sawah, kebun untuk bawang, buncis, cabai, peternakan, hingga lahan hidroponik untuk sayuran,” kata pimpinan pesantren Miftahul Huda KH Asep Maoshul Affandy.

Asep yang juga merupakan anggota DPR sangat menyambut baik program pemberdayaan santri untuk sektor pertanian yang dijalankan Kementan.

Menurut dia, secara praktik, banyak pesantren yang sudah memperkenalkan pertanian kepada santrinya bahkan menjadikan pertanian sebagai usaha pemenuhan kebutuhan pesantren. “Nah, ini akan lebih terarah jika ditopang dengan pelatihan dan bantuan dari pemrintah. Program Santri Tani Milenial Kementan sangat baik untuk menambah semangat regenerasi petani sekaligus membangun kemandirian pertanian berbasis pesantren,” kata Asep.

Kabupaten Tasikmalaya dipilih sebagai lokasi peluncuran gerakan Santri Tani Milenial karena selain memiliki banyak pesantren juga merupakan daerah sentra pertanian produktif. Pada 2017, Tasikmalaya memiliki luasan lahan untuk pertanaman padi sebesar 128.589 hektare dan lahan kering untuk pertanaman sayuran sebesar 26.570 hektare. Produksi padi di Kabupaten Tasikmalaya pada periode tersebut sebesar 823.818 ton, sedangkan produksi sayuran bervariasi sesuai dengan komoditasnya.

Peluncuran program Santri Tani Milenial juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Razhanul Ulum, Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto, sejumlah pimpinan pondok pesantren se-Indonesia, perwakilan dari sejumlah kementerian terkait, seperti Sekretariat Negara, Kementerian BUMN, Kemenko Perekonomian, Kemendes, dan Kemenag, para mitra strategis dari perusahaan perbankan, serta kelompok tani.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement