Kamis 23 Jul 2020 12:14 WIB

PTBA Mulai Uji Terapan Gasifikasi Batu Bara

DME ini diarahkan terutama untuk mensubtitusi penggunaan LPG

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) Juli 2020 sebesar US$52,16 per ton turun sebesar US$0,82 per ton atau 1,54 persen dibandingkan Juni 2020 sebesar US$52,98 per ton, penurunan tersebut disebabkan minimnya permintaan ekspor batu bara untuk pasar global khusunya China dan India.
Foto: ANTARA /Syifa Yulinnas
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) Juli 2020 sebesar US$52,16 per ton turun sebesar US$0,82 per ton atau 1,54 persen dibandingkan Juni 2020 sebesar US$52,98 per ton, penurunan tersebut disebabkan minimnya permintaan ekspor batu bara untuk pasar global khusunya China dan India.

EKBIS.CO,  JAKARTA -- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai melakukan uji terapan untuk proyek gasifikasi batu bara coal to DME. Sekertaris Perusahaan PTBA Apollonius Andwie memastikan, proyek gasifikasi ini masih berjalan sesuai rencana.

Apollo menjelaskan, dalam uji terapan PTBA bekerja sama dengan Kementerian ESDM. Selain uji terapan, perusahaan melakukan uji laboratorium untuk penggunaan DME. Harapannya, dari hasil uji ini nantinya bisa meyakinkan bahwa penggunaan DME kompatibel sebagai subtitusi elpiji.

"Proyek Gasifikasi PTBA, khususnya Coal to DME, sampai dengan saat ini masih berjalan sesuai rencana. PTBA bekerja sama dengan Lemigas untuk melaksanakan uji laboratorium dan uji terapan untuk pemakaian DME," ujar Apollo kepada Republika.co.id, Kamis (23/7).

Selain melakukan uji lab dan uji terapan, perusahaan juga sedang menghitung angka keekonomian proyek. Perusahaan melibatkan Tekmira untuk kajian cost benefit ini.

"Selain Lemigas, PTBA juga bekerja sama dengan Tekmira untuk melakukan kajian cost benefit analysis," ujar Apollo.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, persoalan keseimbangan suplai dan stok LPG ini ke depan bisa teratasi melalui pemanfaatan sumber energi lain, salah satunya Dimethyl Ether (DME).

"DME ini diarahkan terutama untuk mensubtitusi penggunaan LPG yang di awal dulu digunakan untuk mensubtitusi minyak tanah. Apalagi 75 persen penggunaan LPG di dalam negeri itu berasal dari impor. Kalau kita tergantung impor dari sisi ketahanan energi akan tidak terlalu baik," kata Dadan saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/7).

Karakteristik DME, sambung Dadan, memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG. "Karena mirip makanya bisa menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage, dan hadling eksisting," ungkapnya.

Kelebihan lainnya, DME bisa diproduksi dari berbagai sumber energi, termasuk bahan yang dapat diperbarui. "Meskipun industrinya belum ada di Indonesia, kami akan mengembangkan pendukung teknis di dalam negeri baik dari sisi produksi dan pemanfaatan. Ini sangat beralasan kuat," kata Dadan.

DME memiliki kandungan panas (calorific value) sebesar 7.749 Kcal/Kg, smentara kandungan panas LPG senilai 12.076 Kcal/Kg. Kendati begitu, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi sehingga kalau dalam perbandingan kalori antara DME dengan LPG sekitar 1 : 1,6. "Artinya 1 liter LPG sama dengan 1,2 liter DME," ungkap Dadan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement