Kamis 18 Mar 2021 17:08 WIB

ADB: 122 Juta Orang Terancam Miskin Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim bisa menyusutkan ekonomi global hingga 3 persen pada tahun 2050.

Red: Nidia Zuraya
Perubahan iklim (Ilustrasi). Deputy Country Director Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia Said Zaidansyah mengatakan sebanyak 122 juta orang terancam miskin akibat perubahan iklim yang semakin meluas,
Foto: PxHere
Perubahan iklim (Ilustrasi). Deputy Country Director Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia Said Zaidansyah mengatakan sebanyak 122 juta orang terancam miskin akibat perubahan iklim yang semakin meluas,

EKBIS.CO,  JAKARTA -- Deputy Country Director Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia Said Zaidansyah mengatakan sebanyak 122 juta orang terancam miskin akibat perubahan iklim yang semakin meluas dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi global. Said dalam webinar mengenai ekonomi hijau yang dipantau di Jakarta, Kamis (18/3), mengatakan, terjadinya perubahan iklim yang berdampak kian nyata bisa menyusutkan ekonomi global hingga 3 persen pada 2050.

Selain itu ancaman panen komoditas pangan global juga berkurang lima persen pada 2030 dan 30 persen pada 2080 apabila negara-negara di dunia tidak melakukan apapun untuk mencegah perubahan iklim semakin meluas. "Dilihat secara global, kerugian akibat perubahan iklim mencapai 18 miliar dolar AS per tahun terhadap sektor energi dan transportasi," kata Said. 

Baca Juga

Namun jika sektor konsumsi rumah tangga juga diperhitungkan, kerugian per tahun semakin membengkak menjadi 390 miliar dolar AS. Said menyebut juga akan ada 143 juta orang yang harus relokasi dalam negeri akibat perubahan iklim apabila tidak dilakukan apapun dalam pencegahan bencana tersebut.

Pada periode 1990-2019 di Asia Pasifik sebanyak 2,5 miliar orang terdampak dan satu juta korban meninggal akibat bencana karena perubahan iklim, 1.470 triliun dolar AS hilang akibat kerugian fisik dari bencana tersebut. Bahkan dia menerangkan risiko ancaman tersebut menjadi lebih besar lantaran Indonesia memiliki geografis kepulauan dan daerah yang rentan terjadi bencana alam. 

Said menyebut, beberapa kota besar di Indonesia terancam dari naiknya permukaan air laut, deforestasi, serta degradasi lingkungan yang terus berlangsung. Karena itu, Said menekankan perlu adanya perubahan sistem ekonomi menjadi ekonomi hijau atau yang lebih ramah lingkungan agar dampak dari perubahan iklim tidak berdampak semakin parah.

Secara umum ekonomi hijau sebagai sistem pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan dengan mengurangi risiko lingkungan, kelangkaan ekologis, rendah karbon, pembangunan berkesinambungan, dan inklusif.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement