Senin 14 Jun 2021 14:59 WIB

Menteri KKP Pede Indonesia Kuasai Pasar Udang Dunia

Menteri KKP mengaku sudah menyiapkan program peningkatan produksi dan ekspor udang

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah pekerja menyortir udang vaname binaan TNI AD di area tambak udang Desa Suak Seukee, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh.
Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
Sejumlah pekerja menyortir udang vaname binaan TNI AD di area tambak udang Desa Suak Seukee, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh.

EKBIS.CO,  JAKARTA -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penuh program peningkatan ekspor udang nasional. Hal tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam paparannya sebagai keynote speaker pada acara Shrimp Talks: Support the Target of 250 Percent Increase in Shrimp Export Value dalam rangka Dies Natalis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran ke-16 di Universitas Padjadjaran Bandung, Senin (14/6).

"Udang merupakan komoditas perikanan yang paling banyak diminati pasar global. Dalam kurun waktu 2015 sampai 2019 udang merupakan permintaan pasar nomor dua setelah salmon," ujar Trenggono dalam siaran pers di Jakarta, Senin (14/6).

Indonesia, ucap Trenggono, selama kurun waktu 2015 hingga 2020 berkontribusi terhadap pemenuhan pasar udang dunia rata-rata sebesar 6,9 persen. Trenggono menilai potensi pasar ini harus dimaksimalkan, khususnya pasar yang memberikan nilai tinggi terhadap udang produksi Indonesia agar Indonesia mampu menguasai pasar udang dunia.

Untuk mendukung hal tersebut bisa tercapai, Trenggono memaparkan beberapa program yang telah disiapkan oleh KKP untuk meningkatkan produksi dan ekspor udang nasional, yaitu revitalisasi tambak dengan membangun infrastruktur atau sarana dan prasarana sebagai percontohan kawasan udang bagi masyarakat, penyederhanaan perizinan usaha tambak udang, serta pembangunan Model Shrimp Estate untuk budidaya udang dari hulu ke hilir.

Untuk Shrimp Estate sendiri merupakan budidaya udang berskala memadai yang mana proses budidayanya dari hulu hingga hilir berada dalam satu kawasan dengan proses produksi berteknologi agar hasil panen lebih optimal, mencegah penyakit, serta lebih ramah lingkungan agar prinsip budidaya berkelanjutan tetap terjaga.

Namun dalam implementasinya, Trenggono menjelaskan beberapa tantangan pada subsektor perikanan budidaya, salah satunya adalah pakan yang merupakan komponen biaya produksi terbesar. Untuk itu, kerja sama antara pemerintah dengan produsen pakan nasional harus berjalan beriringan untuk mencapai biaya komponen pakan yang lebih efisien. Dia berharap kepada para peneliti agar dapat terus melakukan pengembangan dalam inovasi pakan di Indonesia.

"Saya mengimbau para peneliti, khususnya di perguruan tinggi untuk selalu melakukan inovasi dan riset dalam rangka mengurangi ketergantungan bahan baku impor dan bahan baku yang berasal dari penangkapan," ungkap Trenggono.

Trenggono menyampaikan nilai ekspor udang nasional pada 2019 menempatkan Indonesia di urutan kelima eksportir udang dunia, di bawah India, Ekuador, Vietnam dan Cina, dengan market share sebesar 7,1 persen yang mana dari angka tersebut dengan total volume produksi udang sebesar 239.227 ton nilai ekspor udang Indonesia sebesar 2,04 miliar dolar AS. Hasil inilah yang akan terus ditingkatkan oleh KKP ke depannya.

Namun demikian, Trenggono juga mengingatkan bahwa pengelolaan produksi dari budidaya udang harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan menerapkan prinsip berkelanjutan.

Kata Trenggono, kebijakan KKP dalam pemanfaatan sumber daya tidak hanya mengeksploitasi sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonomi, namun harus memperhatikan lingkungan dan keberlanjutan sehingga pembangunan kelautan dan perikanan di masa depan dapat menyeimbangkan antara ekologi dan ekonomi sesuai dengan arah masa depan ekonomi dunia, yaitu menuju ekonomi biru.

Trenggono juga menyampaikan tiga program terobosan KKP berbasis keberlanjutan selama tiga tahun ke depan."Tiga program prioritas KKP untuk tiga tahun ke depan, yaitu Peningkatan PNBP dari Sumber Daya Alam perikanan tangkap untuk peningkatan kesejahteraan nelayan, pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan, serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya tawar, payau, dan laut berbasis kearifan lokal," kata Trenggono menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement