Rabu 25 May 2022 11:09 WIB

Dekan FKH Unair: Penanganan PMK Pemda Jawa Timur Sudah Maksimal

Penyemprotan kandang dan manusia yang keluar masuk kandang juga telah diinstruksikan

Red: Hiru Muhammad
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan ke sapi yang akan dikirim ke Kalimantan saat menjalani proses karantina di kandang Instalasi Karantina Hewan (IKH) Balai Karantina Pertanian di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (23/5/2022). Balai Karantina Pertanian Palu melakukan tindakan karantina selama 14 hari bagi sapi yang akan dikirim ke luar daerah untuk mendeteksi dan mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan ternak.
Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan ke sapi yang akan dikirim ke Kalimantan saat menjalani proses karantina di kandang Instalasi Karantina Hewan (IKH) Balai Karantina Pertanian di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (23/5/2022). Balai Karantina Pertanian Palu melakukan tindakan karantina selama 14 hari bagi sapi yang akan dikirim ke luar daerah untuk mendeteksi dan mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan ternak.

EKBIS.CO, SURABAYA – Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Mirni Lamid menyebutkan penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK) memerlukan respon dan kerja cepat. Hingga saat ini, Mirni menyebut penanganannya telah dilaksanakan maksimal, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. "Kami harapkan masyarakat tidak boleh panik karena penanganan PMK di Jawa Timur terus dilakukan secara maksimal," ujarnya saat dihubungi pada Selasa, 24 Mei 2022.

Mirni mengapresiasi kerja sama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemprov Jawa Timur dalam menangani PMK. Pemprov Jawa Timur dinilai sigap dan selalu siap merespon semua informasi yang masuk melalui posko darurat.

Baca Juga

"Saya melihat pemdanya luar biasa karena betul-betul turun langsung ke lapangan. Jadi begitu ada arahan dari pemerintah pusat, semua jajaran bekerja cepat. Saya kira ini sangat luar biasa sekali," sebutnya.

Menurut Mirni, Pemprov Jawa Timur juga mengintruksikan semua kabupaten yang ada untuk melakukan penyemprotan kandang dan semua manusia yang keluar masuk area kandang. Kemudian melakukan penyuntikan vitamin untuk menambah daya tahan imun tubuh hewan. "Kandang dan tiap dindingnya secara rutin terus dilakukan penyemprotan. Sapi dan bagian bagian yang sakitnya terus dilakukan pengobatan. Semua tiga pilar (Pemda, TNI dan Polri) bekerja cepat dan meresponnya secara sigap," katanya.

Meski demikian, Mirni berharap aturan lockdown dapat dilonggarkan untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. Baginya, pengiriman boleh tetap dilakukan untuk sapi yang sehat dan telah melalui pemeriksaan dokter hewan."Yang tidak boleh itu sapi dalam keadaan sakit atau yang terkonfirmasi positif. Kalau sapi yang sehat menurut saya boleh dikirim karena itu bisa membantu ekonomi peternak dan masyarakat luas," katanya.

Mirni menyebutkan, saat ini penanganan PMK di Jawa Timur terus dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah pencegahan penularan melalui kanal virtual maupun sosialisasi langsung bersama mahasiswa fakultas kedokteran hewan. “Yang pasti kita terus melakukan sosialisasi baik terhadap peternak maupun masyarakat luas,” katanya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement