Kamis 03 Nov 2022 14:34 WIB

Inflasi IHK 2022 Lebih Rendah dari proyeksi Semula

BI menilai inflasi inti yang dibawah proyeksi bukti stabilisasi rupiah dari BI

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2022 akan lebih rendah dari proyeksi semula. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, dengan memperhatikan perkembangan inflasi terbaru pada Oktober 2022, inflasi IHK 2022 diproyeksi lebih rendah dari 6,3 persen.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2022 akan lebih rendah dari proyeksi semula. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, dengan memperhatikan perkembangan inflasi terbaru pada Oktober 2022, inflasi IHK 2022 diproyeksi lebih rendah dari 6,3 persen.

EKBIS.CO,  JAKARTA -- Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2022 akan lebih rendah dari proyeksi semula. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, dengan memperhatikan perkembangan inflasi terbaru pada Oktober 2022, inflasi IHK 2022 diproyeksi lebih rendah dari 6,3 persen.

"Dengan realisasi inflasi kemarin, inflasi IHK 2022 bisa lebih rendah dari 6,3 persen, begitu juga dengan inflasi inti yang semula perkirakan 4,3 persen bisa lebih rendah dari itu," katanya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (3/11).

BI memproyeksikan inflasi inti pada Oktober 2022 sebesar 3,7 persen, yang ternyata realisasinya sebesar 3,3 persen. Penyebabnya adalah koordinasi erat pemerintah pusat dan daerah untuk kendalikan inflasi pangan, baik dengan operasi pasar, hingga pemberian insentif bagi daerah yang bisa turunkan inflasi wilayahnya.

Perry mengatakan deflasi ini menjadi faktor positif bahwa dampak rambatan kedua bahkan ketiga dari kenaikan harga BBM dapat dikendalikan. Faktor lainnya adalah karena stabilisasi rupiah yang dilakukan BI dapat menjaga dampak dari inflasi impor atau imported inflation.

Perry menyebut seluruh negara sedang mengalami dampak kuatnya dolar AS. Secara year to date, dolar AS mengalami apresiasi hampir 20 persen. BI melakukan intervensi stabilisasi di pasar spot, DNDF, hingga di pasar Surat Berharga Negara (SBN) agar depresiasi tetap terjaga.

"Hasilnya depresiasi nilai tukar rupiah termasuk yang paling rendah diantara negara lain, ini dilakukan agar tidak menaikan harga-harga di dalam negeri dari imported inflation," katanya.

Ini yang menyebabkan inflasi IHK dan inti bisa lebih rendah dari yang diperkirakan. Langkah BI menaikan suku bunga juga untuk bisa menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti turun ke bawah empat persen pada semester I 2023.

Saat inflasi terkendali, maka akan menjadi dukung pertumbuhan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, dan juga stabilitas rupiah. Perry mengatakan BI akan terus memantau kondisi dan mereview respons-respons kebijakan untuk menjaga stabilitas kedepannya.

Pada kuartal III 2022, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dari 5,5 persen. Ini dikontribusi oleh indeks penjualan, consumer confidence, pertumbuhan kredit, neraca transaksi berjalan yang baik, hingga pertumbuhan ekspor.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement