Senin 28 Nov 2022 18:01 WIB

Fenomena Tingginya Harga Telur Ayam Negeri, Ini Penjelasan Kementan

Tingginya harga telur ayam negeri ini disebabkan permintaan yang cukup tinggi.

Rep: ali yusuf/ Red: Hiru Muhammad
Pedagang menata telur ayam di lapaknya di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (7/11/2022). Bank Indonesia melalui Survei Pemantauan Harga, inflasi pada pekan pertama November 2022 diperkirakan sebesar 0,08 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi November 2022 sampai dengan minggu pertama yaitu telur ayam sebesar 0,02 persen mtm dan beras sebesar 0,01 persen mtm. Republika/Abdan Syakura
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Pedagang menata telur ayam di lapaknya di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (7/11/2022). Bank Indonesia melalui Survei Pemantauan Harga, inflasi pada pekan pertama November 2022 diperkirakan sebesar 0,08 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi November 2022 sampai dengan minggu pertama yaitu telur ayam sebesar 0,02 persen mtm dan beras sebesar 0,01 persen mtm. Republika/Abdan Syakura

EKBIS.CO, JAKARTA--Harga telur ayam ras, atau lebih dikenal dengan nama telur ayam negeri, semakin lama semakin tinggi. Sebagian besar konsumen rumah tangga merasakan hal tersebut. "Terlebih, telur ayam negeri menjadi panganan wajib sebagian besar masyarakat dan tentunya harus selalu tersedia di rumah setiap harinya," kata Analis Pasar Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Lisa Dwi Lestari, melalui keterangan tertulisnya kepada Republika, Kamis (28/11/2022).

Menurut Lisa, yang juga tercatat masih Mahasiswa Ilmu Ekonomi Pertanian IPB ini, mengatakan, berdasarkan pantauan data harga Petugas Pelayanan Informasi Pasar (PIP) melalui Sistem Informasi Pasar Online Nasional Peternakan (SIMPONI Ternak), per 25 November 2022, harga rata-rata nasional telur ayam ras di tingkat produsen sebesar Rp25.660/kg. Sedangkan di tingkat konsumen mencapai Rp 28.466/kg. 

Baca Juga

"Kondisi ini menunjukkan bahwa harga telur ayam ras, baik di tingkat produsen dan konsumen sudah mulai mengalami peningkatan sedikit di atas harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 22.000/kg untuk tingkat harga produsen dan Rp 27.000/kg untuk tingkat harga konsumen," katanya.

Tingginya harga telur ayam negeri ini dikarenakan permintaan yang cukup tinggi, menjelang bulan Desember yang tentunya bertepatan dengan adanya momen Natal dan tahun Baru (Nataru). Harga Acuan Penjualan/Pembelian (HAP) yang telah disepakati tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 5 Tahun 2022, tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras.

Selain harga telur ayam itu sendiri, faktor utama dalam pembentukan harga telur ayam juga harus menjadi perhatian. Harga telur ayam turut dipengaruhi kondisi harga pakan ternak ayam, yaitu jagung.

Untuk itu, pemerintah mengatur HAP untuk jagung pipilan kering kadar air 15 persen yang digunakan untuk pakan ternak ayam. Harga acuan pembelian di tingkat produsen Rp 4.200/kg, sedangkan harga acuan penjualan di tingkat konsumen Rp5.000/kg. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bersama Bapanas melakukan upaya dalam stabilisasi harga telur. "Salah satunya dengan menghimbau seluruh asosiasi peternak layer dan pedagang agar mematuhi HAP dalam pembelian dan penjualan telur jelang hari besar keagamaan Natal dan Tahun Baru," katanya.

Kesepakatan HAP telur ayam ini sebelumnya telah dibahas bersama seluruh stakeholder perunggasan, sehingga angka pembelian ditingkat produsen sebesar Rp 22.000/kg – Rp 24.000/kg dan angka penjualan di tingkat konsumen sebesar Rp 27.000/kg. Angka pembelian dan penjualan tersebut telah memperhitungkan danmempertimbangkan berbagai variable cost harga pokok.

Manfaat penetapan HAP salah satunya agar harga telur dapat terkendali di tengah tingginya konsumsi dan permintaan jelang akhir tahun. Selain itu, dengan adanya HAP diharapkan dapat menjaga keseimbangan harga yang sama-sama menguntungkan produsen dan konsumen serta mengurangi fluktuasi dan disparitas harga."Pelaksanaan penetapan HAP ini merupakan bagian dari pengendalian inflasi pangan," katanya.

Berdasarkan survei pemantauan harga Bank Indonesia (BI) pada minggu keempat November 2022, inflasi pada November 2022 diperkirakan sebesar 0,18 persen secara bulanan, dimana komoditas telur ayam ras menyumbangkan inflasi November 2022 terbesar, yakni 0,02 persen secara bulanan (month to month). Untuk itu, peranan para stakeholder pangan yang bersinergi dengan Pemerintah penting dalam upaya pengendalian harga dan inflasi ini.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement