Selasa 27 Apr 2021 04:23 WIB

Pengembangan Ekonomi Syariah Diharap Sesuai Selera Milenial

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak bisa dilepaskan dari dunia digital

Rep: fauziah mursid/ Red: Hiru Muhammad
Brand Ekonomi Syariah Indonesia yang diresmikan Presiden Joko Widodo kemarin.
Foto: dok. Istimewa
Brand Ekonomi Syariah Indonesia yang diresmikan Presiden Joko Widodo kemarin.

EKBIS.CO, JAKARTA--Wakil Presiden Ma'ruf Amin berharap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di era transformasi digital menyesuaikan selera pasal milenial. Sebab, Ma'ruf menyebut saat ini muncul ‘Generasi Sy’ (Gen-Sy) yakni kelompok yang sadar syariah dan menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan rohani.

"Sekarang justru milenial yang sadar syariah itu begitu besar jumlahnya, sampai timbul istilah ‘Generasi Sy’. Itu milenial, dan Gen-Sy itu sekarang besar sekali. Karena itu, layanan daripada ekonomi dan keuangan syariah ini harus juga menyajikan layanan yang sesuai dengan generasi milenial," kata Ma'ruf dalam siaran persnya, Senin(26/4).

Wapres juga menjelaskan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Sebab, dunia digital telah menghadirkan financial technology (fintech) dan pasar elektronik (e-commerce), serta produk-produk yang market friendly (ramah pasar) di kalangan generasi muda. 

Hal ini sebagai upaya agar produk-produk syariah lebih dikenal dan diminati generasi milenial. "Karena itu, semboyan kita bahwa ekonomi syariah ini sekalipun pada mulanya kita sediakan untuk mereka yang ingin melaksanakan transaksi ekonomi sesuai dengan tuntutan agamanya, dan lebih pada pendekatan emosional, kini kita mempunyai keinginan menyajikan produk halal maupun juga layanan ekonomi dan keuangan syariah, itu lebih pada alasan rasional, dalam bentuk bukan lagi emosional, tapi lebih rasional," katanya.

Karena itu, orang memilih barang/layanan ekonomi dan keuangan syariah karena memang baik layanannya dan sesuai dengan hati nuraninya. Misalnya, layanan syariah merupakan transaksi yang berdasarkan pada keadilan sehingga lebih nyaman digunakan.

Begitu juga pada makanan, kalau kualitasnya bagus seperti di luar negeri misalnya Australia, di antara masyarakat lebih populer daging yang diproses secara halal sekalipun yang non-muslim.

Begitu juga layanan keuangan syariah, kata Wapres, saat ini justru berkembang di negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim seperti Inggris, Singapura, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Bahkan, bank syariah lebih dulu lahir di Inggris dan Singapura, dengan Inggris menjadi pusatnya. "Artinya mereka menggunakan sistem ini sebagai sesuatu yang rasional," tegasnya.

Karena itu, ia berharap pihak terkait  memanfaatkan potensi besar generasi milenial saat ini. Khususnya, pendekatan rasionalitas harus digunakan guna menarik minat generasi milenial, khususnya Gen-Sy.

Namun, Wapres mengatakan sosialisasi dan literasi menjadi dua hal yang tidak ditingalkan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Untuk itu, ia berharap peran pers dalam menyampaikan informasi mengenai ekonomi dan keuangan syariah baik secara mikro maupun makro kepada masyarakat.

"Kita ingin pers bisa menyajikan dua hal itu, yaitu yang berbentuk pendekatan mikro ekonomi dan juga literasi, kemudian artikel-artikel yang menggambarkan tentang makro ekonomi dari ekonomi dan keuangan syariah. Itu barangkali sangat penting dan sangat didambakan," kata Wapres.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement