Rabu 29 Mar 2023 14:51 WIB

Kirim Beras ke Timur Pakai Tol Laut demi Distribusi Merata

Jawa Timur mencatat surplus beras hampir 3,1 juta ton.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Lida Puspaningtyas
Dirut Perum Bulog Budi Waseso bersama Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat meninjau pemasukan beras impor sebanyak 5.000 ton dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (16/12/2022).
Foto: Dok. Humas Bulog
Dirut Perum Bulog Budi Waseso bersama Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat meninjau pemasukan beras impor sebanyak 5.000 ton dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (16/12/2022).

EKBIS.CO, JAKARTA -- Fasilitasi distribusi bahan pangan pokok penting dari daerah surplus ke daerah defisit terus digenjot Pemerintah. Salah satunya melalui pengiriman beras dari Provinsi Jawa Timur ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka memenuhi pasokan dan menjaga stabilitas harga beras di provinsi yang berlokasi wilayah timur Indonesia tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) Andriko Noto Susanto saat melakukan pelepasan muatan pangan, Rabu, (29/3/2023), di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga

Ia mengatakan, pada pengiriman ini diberangkatkan 50 kontainer atau sebanyak 800 ton beras dengan tujuan sejumlah titik di NTT, diantaranya Kabupaten Maumere dan Ende. Pengiriman ini merupakan pengiriman kedua dari total sebanyak 1.400 ton beras.

Pengiriman kedua ini diperkirakan akan tiba di NTT pada 2 April. Sebelumnya pada 26 Maret lalu telah dilakukan pengiriman sebanyak 600 ton dengan tujuan yang sama. Pengiriman 1.400 ton beras ini dilakukan melalui fasilitas Tol Laut dengan menggunakan kapal Kendhaga Nusantara lima dan 11 di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan yang dioperasikan oleh PT Pelni (Persero).

"Kita berharap pengiriman beras ini dapat memenuhi kebutuhan pangan di NTT sekaligus menjaga stabilitas harga beras di tengah Hari Besar dan Keagamaan Nasional (HBKN) puasa dan Idulfitri sesuai arahan Bapak Presiden," ujarnya.

Fasilitasi pendistribusian bahan pangan pokok dan penting antar provinsi ini juga merupakan wujud kehadiran dan respon cepat Pemerintah menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras di NTT yang sebelumnya sempat bergejolak.

Lebih lanjut ia menjelaskan, beras yang dikirimkan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog. Selanjutnya, setelah tiba di tujuan beras tersebut akan dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau operasi pasar beras di Kabupaten Maumere dan Ende guna mengendalikan harga dan inflasi.

"Ini merupakan bagian dari optimalisasi dan pemanfaatan CBP sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 4 Tahun 2022 yang mengatur tentang penyaluran CBP. Seperti kita ketahui salah satu tujuan pemanfaatan CBP diantaranya untuk stabilisasi harga antar waktu antar wilayah, menekan inflasi, dan menjaga kualitas gizi masyarakat,” ujarnya

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Didik Rudy Prasetya menyambut baik terlaksananya pengiriman beras dari Jawa Timur ke NTT. Seperti diketahui, Jawa Timur sebagai salah satu lumbung beras nasional secara konsisten menjadi pemasok komoditas beras bagi 16 provinsi di Indonesia.

Jawa Timur juga berkontribusi sebanyak 18 persen terhadap produksi beras nasional, dengan produksi provinsi ini pada tahun 2022 sebanyak 9,6 juta tonton. "Apabila dihitung dengan tingkat konsumsi kita, di Jawa Timur kita sudah surplus hampir 3,1 juta ton," ujar Didik.

Adapun berdasarkan data Panel Harga Pangan NFA, harga beras di NTT di tingkat konsumen per 29 Maret 2023, untuk beras premium Rp 14.650/kg dan beras medium Rp 13.070 per kg. Sedangkan rata-rata harga nasional, beras premium Rp 13.620 per kg dan beras medium Rp 11.920.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement