Jumat 30 Dec 2016 00:45 WIB

BI Jatim Distribusi Uang Baru Secara Bertahap

Rep: Binti Sholikah/ Red: Budi Raharjo
Model menunjukan uang Rupiah kertas wajah baru usai peresmian pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah Tahu Emisi 2016 di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (19/12).
Foto: Republika/ Wihdan
Model menunjukan uang Rupiah kertas wajah baru usai peresmian pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah Tahu Emisi 2016 di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (19/12).

EKBIS.CO, SURABAYA -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur melakukan distribusi uang baru Tahun Emisi (TE) 2016 yang disebut uang NKRI secara bertahap. Sebab, pencetakan uang baru juga dilakukan bertahap untuk mengantisipasi inflasi.

Kepala KPw BI Jatim, Benny Siswanto, mengatakan, distribusi uang NKRI di Jatim belum terlalu besar. Sebab, uang NKRI secara berangsur-angsur akan menggantikan uang lama TE 2014. “BI tidak mencetak besar-besaran tapi menggantikan uang yang lusuh atau diracik. Jika BI mencetak besar-besaran dan yang kemarin belum ditarik akan menyebabkan inflasi,” kata Benny di Surabaya, Kamis (29/12).

Menurutnya, BI berusaha mengenalkan uang NKRI kepada masyarakat melalui beberapa cara, seperti kas keliling, penukaran di kantor BI, dan sosialisasi. Ia juga mengakui uang NKRI yang diterima BI Jatim dari Jakarta jumlahnya belum terlalu banyak. Sehingga BI Jatim mendistribusikan secara terbatas pada tampat dan waktu tertentu.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah, Hestu Wibowo, menyebutkan uang NKRI yang diterima BI Jatim dari Jakarta untuk didistribusikan ke seluruh Jatim sebanyak 710 dus dengan nilai total Rp 246,9 miliar. Uang tersebut didistribusikan di Surabaya senilai Rp 126,7 miliar, Malang Rp 34,2 miliar, Kediri Rp 52,8 miliar, dan Jember Rp 33,05 miliar.

“Realisasi sampai 28 Desember 2016 sudah didistribusikan ke masyarakat dan perbankan sebesar Rp 35,9 miliar, baru sekitar 10 persen -15 persen. Kami tidak mendistribusikan secara massal karena kebijakan dari BI Jatim untuk satu bank hanya kami sampaikan 1 broad untuk satu hari,” terang Hestu.

Uang 710 dus ini terdiri dari pecahan besar senilai Rp 208 miliar dan pecahan kecil Rp 38,92 miliar. Uang pecahan besar ini terdiri atas Rp 100 ribu yang dengan total Rp 40 miliar, pecahan Rp 50 ribu senilai Rp

150 miliar, dan pecahan Rp 20 ribu senilai Rp 18 miliar.

Sedangkan pecahan kecil terdiri atas pecahan Rp 10 ribu senilai Rp 30 miliar, pecahan Rp 5.000 senilai Rp 1,5 miliar, pecahan Rp 2.000 senilai Rp 6 miliar, pecahan Rp 1.000 senilai Rp 1 miliar, pecahan logam Rp 1.000 senilai Rp 250 juta, logam Rp 500 senilai Rp125 juta, logam Rp 200 senilai 40 juta, dan logam Rp 100 senilai Rp 10 juta.

Pendistribusian uang kepada masyarakat dilakukan melalui kas keliling dengan model penukaran per paket senilai Rp 300 ribu sampai dengan Rp 500 ribu. Cara ini diberlakukan karena pada awal penerbitan uang baru, masyarakat menukar untuk memenuhi rasa penasaran.

“BI hanya mencetak sesuai kebutuhan. Uang lama yang tidak layak edar dimusnahkan dan ganti dengan uang baru, secara berangsur-angsur uang baru ini bisa beredar di masyarakat,” imbuh Hestu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement