Kamis 22 Apr 2010 07:17 WIB

Ekonomi Biaya Tinggi Jadi Kendala Investasi

Rep: teguh thr/ Red: Arif Supriyono

JAKARTA--Para pengamat menilai masih ada beberapa kendala untuk mendongkrak target investasi. Salah satunya adalah ekonomi biaya tinggi.

Sumbatan dari ekonomi biaya tinggi ini, tutur ekonom dari InterCafe, Iman Sugema, kerap membuat investor enggan menanamkan modalnya. Ini antara lain meliputi, birokrasi yang lambat serta tingkat korupsi yang kerap membayangi sistem birokrasi pemerintah.

Iman menambahkan, pencapaian target investasi sebesar Rp 10 ribu triliun sampai dengan 5 tahun ke depan terlalu konservatif. Dengan potensi yang ada saat ini, pencapaian investasi bisa lebih besar dari itu.

"Seharusnya kita bisa lebih dari itu untuk mencapai angka pertumbuhan 7 sampai dengan 8 persen," ujar Iman, Rabu (21/4). Menurut Iman, belanja dari pemerintah akan sulit memenuhi target itu.

Untuk itu, kebutuhan invetasi akan lebih didorong dari sektor swasta. Apalagi sebelum krisis 1997-1998 kontribusi investasi bagi pertumbuhan mencapai 30 persen lebih. Iman mengatakan, pemerintah seharusnya bukan sekadar mengundang investor baru namun harus berpikir bagaimana mempertahankannya.

Sedangkan ekonom Cides, Umar Juoro, menuturkan salah satu penghambat investasi adalah masalah kepastian, baik dari perangkat peraturan perundangannya ataupun kebijakannya. "Misalnya masalah Donggi Senoro. Ini yang terkesan saling melempar satu sama lain," ujarnya.

Menurut Umar, sekarang yang terpenting adalah bagaiman memanfaatkan investasi itu. Selama ini banyak investasi yang jatuhnya kepada portofolio ataupun surat berharga bukan pada investasi langnsung.

"Bukan sekadar Rp2 ribu triliun, namun juga bagaimana bentuk investasinya. Penanaman modal asing (PMA) harus digenjot dalam investasi langsung," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement